Saat ini, bukanlah masa yang mudah untuk dijalani oleh setiap manusia. Belum sampai di pertengahan 2020, kita sudah dihadapi dengan berbagai macam peristiwa yang tak jarang menguras tenaga dan juga air mata.
Indonesia, bukanlah satu-satunya negara yang merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Akan tetapi, wajah pemerintah tidak dapat berpaling dan mengakui bahwa tanah air sangat merasakan dampak dari pandemi ini, terlebih dalam sektor perekonomian. Mengutip CNBC Indonesia, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) per 2 Juni, terdapat 3,05 juta pekerja yang terdampak (PHK dan dirumahkan) Covid-19.
Mujriah (42) & Uyut (80) (bukan nama asli), merupakan salah satu keluarga kecil di utara Ibu Kota yang turut merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Mereka adalah bagian dari keluargaku, tinggal di sebuah rumah tua yang usianya telah mencapai 3 dasawarsa. Sejak lahir, mata ini telah menjadi saksi betapa banyaknya perubahan (renovasi) yang terjadi pada rumah tersebut. Mereka telah lama hidup sebatang kara tanpa kehadiran belahan jiwa. Iya, biji mata mereka telah pergi lebih awal ke hadapan Sang Pencipta.
Meski usia mereka terbilang sudah cukup senja, keduanya masih terus mencoba untuk menjalani hidup. Mujriah, nama untuk bibi-ku, ia biasa menjual ikan segar di sebuah pasar di Jakarta Utara untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sedangkan Uyut, sebutan untuk nenek-ku, saat ini dirinya hanya bisa beristirahat di dalam rumah. Terbaring sepanjang hari, mengingat usianya yang sudah sangat senja, raganya kini sudah tidak sanggup beraktivitas layaknya saat muda. Fungsi dari indra penglihatan & pendengarannya sudah menurun. Bahkan bagi dirinya, untuk beranjak dari kasur saja membutuhkan tenaga ekstra.
Pandemi Covid-19 membuat perekonomian mereka semakin tertekan. Pasar yang awalnya ramai dikunjungi pembeli, akan tetapi saat ini sudah mulai sepi. Kekhawatiran akan tertular virus bermahkota menjadi salah satu alasan mengapa para pembeli kini jarang mengunjungi pasar.
Menurut Mujriah, para pembeli kini lebih dominan melakukan belanja bulanan untuk mengurangi aktivitas mereka di luar rumah, terlebih di kerumunan. Hal yang wajar karena pasar merupakan salah satu fasilitas umum yang disinyalir dapat menjadi klaster penularan Covid-19. Hal ini mengakibatkan penghasilan hariannya berkurang dibandingkan sebelumnya. Bantuan sosial pangan dari pemerintah menjadi salah satu 'amunisi' bagi keduanya untuk dapat terus bertahan hidup di masa yang serba sulit ini.
"Ya kalau sekarang jualannya lagi sepi a'. Berbeda sebelum pandemi," ungkapnya.
Kendati begitu, mereka tidak pernah mengeluh. Terakhir kali aku menengok mereka, kemarin, diri ini masih saja dihadirkan dengan tawa dan senyum dari masing-masing wajah keduanya. Iya, di balik rumah sederhana itu terdapat dua perempuan kuat. Raga yang tak pernah kehabisan asa, dan jiwa yang selalu taat kepada-Nya.












Matul bang
BalasHapusSuka sama foto item putihnyaaa~
BalasHapusSelalu terjaga bibi & uyut :)
BalasHapus